Arsitektur Kabinet Presiden Jokowi: Bagaimana yang Ideal?

Tag

,

Dalam beberapa hari ke depan, Jokowi akan dilantik sebagai Presiden RI Periode 2014-2019. Tidak lama setelah itu akan mengumumkan susunan Kabinetnya, juga (kemungkinan besar) ada perubahan dalam Struktur Organisasinya (lebih dikenal di media dengan sebutan Arsitektur Kabinet/Kementerian).

Beberapa waktu yang lalu sangat ramai di media mengenai berbagai alternatif arsitektur kabinet, baik yang dilontarkan oleh Jokowi, Jusuf Kalla, Tim Transasisi, para pengamat dan pakar, serta rakyat Indonesia secara umum. Dari sekian banyak kemungkinan bisa dikelompokkan menjadi tiga, yaitu perubahan radikal (perampingan/downsizing besar-besaran), tidak ada perubahan yang siginifikan (sama dengan yang sudah ada atau ada perubahanan sedikit saja), ada penggabungan dan pemisahan secara serentak tetapi secara umum jumlah kementerian tidak berubah banyak.

Bila melihat kecenderungan sampai saat ini (17/10/2014), nampaknya Jokowi akan memilih alternatif ke-3, yaitu ada penggabungan dan pemisahan secara serentak dengan jumlah kementerian relatif tetap. Infomasi terakhir yang dipublikasi media adalah 33 Kementerian dengan 4 Menteri Kordinator. Bahkan komposisi perwakilan partai dan profesional (saya lebih suka dengan sebutan non partai), adalah 15 dari partai dan 18 dari profesional.

Apakah ini arsitektur kabinet yang ideal? Tidak mudah menjawabnya karena tergantung sudut pandang dan definisi ideal itu sendiri. Berhubungan belum ada keputusan resmi dari Jokowi, analisis arsitektur kabinet juga tidak bisa dilakukan. Daripada menduga-duga, saya lebih prefer menunggu kepastian dari Presiden Jokowi setelah pelantikan tanggal 20 Oktober 2014.

Sambil menunggu yang resmi, saya akan sedikit sharing dan beropini berdasarkan pengalaman berhubungan dengan berbagai pihak selama ini, termasuk birokrasi Pemerintah. Beberapa hal yang bisa saya petik adalah sebagai berikut:

1. Organisasi dan manajemen (OM) Pemerintahan jauh lebih kompleks dan rigid dibandingkan dengan OM perusahaan swasta di Indonesia yang terbesar sekalipun.

2. Restrukturisasi OM perusahaan swasta saja perlu pertimbangan yang sangat matang dan biasanya masuk keputusan yang bersifat strategik (jangka panjang) jarang dilakukan untuk kebutuhan jangan pendek dan menengah. Horizon waktu jangka panjang itu biasanya di atas 5 tahun.

3. Jika struktur organisasi baru sudah diputuskan, butuh waktu yang cukup agar organisasi baru itu bisa berkerja.

4. Perubahan struktur organisasi adalah isu yang sangat sensitif. Manajemen Puncak harus betul-betul bisa meyakinkan semua karyawannya dan melakukan sosialisasi SEBELUM stuktur organisasi baru diimplemtasikan. Kalau tidak, akan timbul resistensi yang akan memnggangu kinerja perusahaan.

Bagaimana dengan OM Pemerintahan?

Semua presiden pernah melakukan itu. Setelah masa reformasi, yang paling radikal adalah yang dilakukan oleh Presiden GusDur dengan membubarkan Kementerian Penerangan dan Kementerian Sosial serta menggabungkan Kementerian Perindustrian dan Perdagangan. Hasilnya? Menimbulkan kehebohan karena dianggap terlau radikal dan terburu-buru.

Sebagaimana yang telah disampaikan OM Pemerintahan lebih rumit dan rigid, karena semua mekanisme tata kelola di OM diatur oleh regulasi yang bertingkat dan harus singkron satu sama lain. Sebagai contoh, beberapa kementerian diatur oleh UUD, beberapa oleh UU, sehingga Presiden tidak bisa mengubahnya. Kalaupun nanti ada perubahan arsitektur kabinet, Presiden harus mengeluarkan Peraturan Pemerintah (PP) atau Peraturan Presiden (Perpres) sebagai payung hukumnya dan PP/Perpres harus cermat merujuk cantolan hukum yang lebih tinggi, yaitu UUD dan UU. Kalau tidak, bisa batal demi hukum atau digugat oleh pihak lain ke PTUN.

Setelah PP keluar semua regulasi turunannya seperti Peraturan dan Keputusan Menteri, Peraturan dan Keputusan Dirjen yang terkait dengan perubahan arsitektur kabinet juga harus diubah. Ini belum termasuk tata kelola lain yang terkait dengan perubahan tersebut juga harus disesuaikan. Ambil contoh saja, jika Jokowi jadi menggabungan Ditjen Pendidikan Tinggi dengan kementerian Riset dan Teknologi. Otomatis semua tata kelola yang berhubungan dengan Tugas Pokok dan Fungsi (Tupoksi) Ditjen PT harus diubah.

Semua itu butuh waktu, tidak bisa langsung diterapkan. Kalau tidak disiapkan dengan cermat seluruh regulasi tata kelolanya, birokrat tidak bisa bekerja. Karena birokrat bekerja sesuai regulasi. Pekerjaan birokrat harus ada payung hukum yang berjenjang. Tidak seperti di perusahaan swasta Direksi bisa dengan mudah melakukan semuanya dengan keputusan Direksi dan memo dinas saja.

Ini belum termasuk tata kelola yang berhubungan dengan Pemerintah Daerah, baik Provinsi, Kabupaten dan Kota. Jangan dilupakan juga Lembaga Pemerintah Non Kementerian (LPNK) yang terkait serta Badan-badan yang ada di dibawah Kementerian. Sebagai contoh, jika Dirjen Dikti digabung dengan Kementerian Ristek, maka tata kelola yang berhubungan dengan Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN-PT) serta Kopertis-Kopertis juga harus disesuaikan.

Apa yang sudah dikemukakan tersebut baru sebagian kecil saja ‘perkerjaan lanjutan’ yang harus dilakukan SEBELUM kabinet baru bisa bekerja dengan normal. Perkiraan saya butuh waktu sekitar 1-2 tahun sampai kabinet Jokowi bisa bekerja ‘smooth‘ dengan program-programnya dengan arsitektur kabinet yang baru, apapun bentuk perubahnya. Dan ini hanya untuk ‘membereskan’ masalah regulasi dan adminstrasi saja. Belum termasuk aspek lain seperti sosialisasi, penanganan resistensi dari birokrat, penanganan ‘serangan’ dari DPR dan pihak eksternal lain.

Di sisi lain, bekerja dengan arsitektur kabinet yang lama juga tidak lepas dari masalah. Kelebihan paling menonjol dengan menggunakan arsitektur kabinet lama warisan Presiden SBY adalah, Jokowi dan kabinet bisa langsung kerja tancap gas, tidak direpotkan oleh hal-hal yang sudah dipaparkan di atas.

Apapun yang akan dipilih oleh Jokowi, saya ucapan selamat bekerja. Sebagai salah satu pemilih, saya mengharapkan Bapak Jokowi berhasil dalam pemerintahan 5 tahun ke depan. Dan bisa menjadi Presiden untuk masa jabatan kedua (2019-2024); karena program-program Bapak di Nawacita akan lebih terlihat hasilnya jika Bapak bisa menjadi presiden selama kurun waktu 10 tahun ke depan.

Salam 3 jari. Selamat juga untuk Bapak Prabowo yang Ulang Tahun ke-63, Hari ini.

Pemilu 2014: Hasil Hitung Cepat (Quick Count)

Tag

, , ,

Update 21.30. Hasil Final (>90%) Quick Count 4 Lembaga Survei, yaitu LSI/TVOne, CSIS/SCTV, SMRC/Indosiar dan IPI/MetroTV adalah sebagai berikut:
pemilu-2014-qc3

Urutan dibuat berdasarkan rata-rata ke-4 hasil survei. Selanjutnya dibandingkan juga dengan hasil Pemilu 2009. Hasilnya sebagai berikut:
1. PDIP, 19,17% atau naik 37% dibandingkan dengan hasil Pemilu 2009.
2. Golkar,  14,61% atau naik 1% dibandingkan dengan hasil Pemilu 2009.
3. Gerindra, 11,98% atau naik 168% dibandingkan dengan hasil Pemilu 2009.
4. Demokrat, 9,80% atau turun 53% dibandingkan dengan hasil Pemilu 2009.
5. PKB, 9,07% atau naik 84% dibandingkan dengan hasil Pemilu 2009.
6. PAN, 7,47% atau naik 24% dibandingkan dengan hasil Pemilu 2009.
7. PKS, 6,84% atau turun 13% dibandingkan dengan hasil Pemilu 2009.
8. Nasdem, 6,7% (partai baru).
9. PPP, 6,58% atau naik 24% dibandingkan dengan hasil Pemilu 2009.
10. Hanura, 5,30% atau naik 41% dibandingkan dengan hasil Pemilu 2009.
11. PBB, 1,49% atau turun 17% dibandingkan dengan hasil Pemilu 2009.
12. PKPI, 0,99% atau naik 10% dibandingkan dengan hasil Pemilu 2009.

Dengan demikian ada 8 partai yang naik perolehan suaranya dan 3 partai yang turun prestasinya. Yang turun adalah Demokrat, PKS dan PBB, sisanya naik. Gerindra dan PKB menjadi partai yang paling tinggi kenaikannya, sedangkan Demokrat adalah yang paling tajam penurunnya.

Efek pencalonan Jokowi nampaknya tidak terlihat pada perolehan suara PDIP karena hanya meraih sekitar 20%, padahal pada survei-survei disebelumnya diperkirakan bisa medorong naik ke 25-30%. Tetapi efek pencalonan Rhoma Irama mungkin sangat berpengaruh pada naiknya perolehan suara PKB secara signifikan.

Sebagai partai baru, perolehan suara Nasdem cukup bagus dan berhasil mengalahkan PPP dan Hanura. Mungkin ada pengaruh karena dia menjadi partai baru satu-satunya pada Pemilu 2014 dibandingkan dengan tahun 2009 yang mempunyai lebih dari 3 partai baru.

 

Update 17.30. Hasil sementara Quick Count 4 Lembaga Survei, yaitu LSI/TVOne, SMRC/Indosiar, CSIS/SCTV dan MetroTV.
pemilu-2014-qc2a

 

Inilah hasil sementara (jam 15.10) hitung cepat (quick count) Pemilu 2014. Yang dilakukan oleh LSI/TVOne (14,1%), SMRC/Indosiar (19,3%), CSIS/SCTV (22,7%).

01. Nasdem : 7,41% – 6,75% – 6,84%
02. PKB : 8,88% – 9,31% – 9,53%
03. PKS : 7,13% – 6,14% – 6,32%
04. PDIP : 22,13% – 19,95% -19,75%
05. Golkar : 17,75% – 15,57% -15,64%
06. Gerindra : 13,51% – 11,84% – 12,09%
07. Demokrat : 10,97% – 9,32% – 9,15%
08. PAN : 7,90% – 7,06% – 7,30%
09. PPP : 8,06% – 6,21% – 6,27%
10. Hanura : 6,3% – 4,13% – 4,99%
14. PBB : 1,75% – 1,12% – 1,21%
15. PKPI : 1,03% – 0,90% – 0,91%

 

 

120601-Ringkasan Data dan Info Kecelakaan Pesawat MAS MH370 Kuala Lumpur-Beijing

Tag

, , , ,

Update 9/4. Masa 30 hari sudah terlampaui, kotak hitam belum ditemukan, bahkan serpihan pesawat pun tidak berhasil ditemukan. Akannya hilangnya pesawat MAS MH 370 akan menjadi misteri selamanya atau memang benar ada informasi yang disembunyikan dan dibuat menjadi misteri?

Entahlah. Banyak analisis yang tersebar di internet dari yang biasa-biasa saja sampai yang mengkaitkan dengan teori konspirasi. Saya tidak yakin mana yang bisa dipercaya, tetapi yang saya hampir 100% yakin, pesawat itu dibajak, siapa yang membajak dan apa motifnya, belum jelas. Juga belum jelas apakah pesawat bersama awaknya semua tewas ataukah ada yang selamat?

***end of update 9/4***

 

Update 25/3. Beberapa hal yang ditunggu konfirmasi dan penjelasan setelah pernyataan PM Najib Razak (24/3) antara lain adalah:

1. Black box akan memberikan sinyal keberadaannya selama 30 hari sesuai umur baterainya. Apakah Black box akan ditemukan?

2. Belum ada penjelasan resmi apakah benda-benda yang mencurigakan terapung di Samudera Hindia itu benar bagian dari MH370?

3. Dimana persisnya MH370 jatuh? Serpihan itu sudah berpindah jauh dari saat kejadian, yaitu 16 hari sejak kejadian jatuh (8/3).

4. Mengapa pesawat sampai jauh menyimpang dari rute sebenarnya, sebelum jatuh? Apalagi ada info yang sudah dikonfirmasi oleh Najib Razak bahwa pesawat tersebut dimatikan transpondernya, dibelokan dengan sangat terencana dan posisi terakhir yang terlacak ada di utara Selat Malaka.

5. Berdasarkan informasi dari Satelit dan mesin pesawat masih melakukan ‘ping’ pada jam 08.11. Berarti waktu itu mesin pesawat masih hidup. Ini hampir 8 jam setelah take-off dari Kuala Lumpur. Apa saja kemungkinan yang terjadi sejak ACARS dimatikan jam 01.31 sampai 08.11? Atas tujuan apa dan akan kemana?

6. Jika membaca perkembangan informasi dan analisis yang ada di media sejak 8-24/3. Terlihat media sudah mencium ada kejanggalan dari informasi yang disampaikan ke publik. Mungkinkah ada informasi yang sangat sensitif yang tidak boleh dibuka?

7. Adakah hubungan dengan berbagai analisis yang menghubungan dengan Diego Gracia?

***end of update 25/3***

 

Update (24/3). Setelah 16 hari pencarian dengan data terakhir ditemukan benda yang diduga serpihan pesawat ada di samudera Hindia sebelah barat Perth Australia. Secara resmi Malaysia melalui PM Najib Razak menyatakan MH370 jatuh di Selatan Samudera Hindia dan seluruh penumpang tidak ada yang selamat. Berikut ini pernyataan lengkapnya:

“Malam ini saya mendapat keterangan dari UK Air Accidents Investigation Branch (AAIB-penyelidik kecelakaan udara Inggris). Mereka memberi tahu bahwa Inmarsat, perusahaan Inggris penyedia data satelit koridor utara dan selatan, telah melakukan perhitungan mendalam. Menggunakan jenis analisis yang tak pernah dipakai sebelumnya dalam penyelidikan semacam ini, mereka bisa memberi kejelasan lebih akan jalur penerbangan MH370.

Menurut analisis terbaru, Inmarsat dan AAIB telah menyimpulkan bahwa MH370 terbang di sepanjang koridor selatan, dan posisi terakhirnya ada di tengah Samudera Hindia, barat Perth.

Ini adalah lokasi terpencil, jauh dari berbagai kemungkinan tempat pendaratan. Maka, dengan kesedihan dan penyesalan mendalam, saya harus menyampaikan bahwa menurut data terbaru ini, penerbangan MH370 berakhir di selatan Samudera Hindia. Kami akan mengadakan konferensi pers lanjutan, besok, dengan detail mendalam.

Untuk sementara, kami ingin mengabarkan perkembangan terbaru secepat mungkin. Kami membagi informasi ini dengan semangat komitmen keterbukaan dan rasa hormat pada keluarga, dua prinsip utama yang memandu penyelidikan.

Malaysia Airlines sudah berbicara dengan keluarga penumpang dan kru untuk menyampaikan perkembangan terbaru. Buat mereka, beberapa minggu terakhir adalah hal yang menyedihkan; saya tahu ini akan semakin berat. Kami meminta media untuk menghormati privasi mereka, dan memberikan mereka ruang yang diperlukan dalam waktu sulit ini.”

***end of update 24/3***

Update (15/3), Setelah lebih dari enam hari belum juga ada titik terang, akhirnya Pemerintah Malaysia mengakui bahwa ada kemungkinan pesawat MH370 tetap terbang selama 4-5 jam namun ke arah yang berbeda berbelok ke arah selat Malaka. Ini mengkorfirmasi data sebelumnya bahwa sebelum menghilang, pesawat diduga berbelok arah.

Dari Selat Malaka diduga pesawat menuju ke-2 koridor, pertama ke arah Utara menuju Kazakhstan dan koridor selatan ke Samudera Hindia (kepulauan Andaman). Komunikasi sistem pesawat diterima pada pukul 08.11, atau kira-kira 8 jam setelah lepas landas.

Data ini terlacak oleh Radar militer bukan radar sipil. Transponder pesawat sengaja dimatikan dan kemungkinan ini dilakukan oleh orang yang ahli. Siapakah dia? Apakah pilotnya atau salah satu penumpang?

Jika info ini benar, indikasi adanya pembajakan adalah yang paling besar kemungkinannya. Pesawat itu bisa saja mendarat di lokasi tertentu atau mengalami musibah di salah satu koridor tersebut.

***end of update 15/3***

 

Sebuah kecelakaan pesawat Malaysia Airlines (MAS) Sabtu tanggal 8 Maret 2014 dini hari telah menyita perhatian dunia. Pesawat dengan kode MAS MH370 berangkat pukul 12.41 (00.41) dari Kuala Lumpur dan diperkirakan tiba di Beijing jam 06.30 (perjalanan sekitar 6 jam). Pada pukul 02.41 pesawat hilang kontak dengan ATC Subang (sekitar 2 jam atau 1/3 perjalanan).

Kecelakaan ini membuat bingung para pakar karena alasan-alasan sebagai berikut:
1. Boeing 777-200 salah satu pesawat terbaik
2. Malaysia Airlines salah satu maskapai terbaik
3. Pesawat berada di fase penerbangan paling aman
4. Tak ada sinyal “distress”

Penumpang yang terdaftar di manifes adalah 227 orang ( 2 orang bayi) dan 12 awak. Sebagian besar adalah warga negara China yaitu 153 orang (1 bayi). WNI ada 7 orang termasuk lulusan Elektro ITB Firman Candra Siregar (25) warga Medan Sumut yang baru saja akan bekerja di Schlumberger. Selain itu ada 38 warga negara Malaysia, 6 dari Australia, 5 warga India, 3 warga negara Perancis, 3 penumpang dan satu bayi berwarga negara Amerika Serikat, 2 warga Selandia Baru, 2 warga negara Ukraina, 1 dari Kanada, 1 penumpang warga Rusia, 1 dari Italia (belakangan diketahui paspor palsu), 1 orang Taiwan, 1 Belanda, dan 1 orang warga negara Austria (belakangan diketahui paspor palsu).

Dari penelusuran terdapat 2 paspor palsu atas nama Luigi Maraldi (37) dari Italy dan Christian Kozel (30) dari Austria yang ternyata hilang dicuri di Thailand sekitar 2 tahun lalu.

Belakangan diketahui penggunanya adalah 2 warga negara Iran. Yang pertama adalah Pouria Nour Mohammad Mehrdad (19). Dari hasil penelusuran polisi Malaysia dia tidak punya hubungan rekam jejak dengan kelompok teroris, dia sedang menuju Frankfurt Jerman untuk beremigrasi dimana ibunya telah menunggu disana. Setelah kejadian tersebut, ibu Pouria menghubungi polisi Malaysia karena dia tahu anaknya mengunakan paspor palsu.

Orang kedua adalah Delavar Syed Mohammad Reza terlahir pada tanggal 21 September 1984 (29). Informasi dari Interpol kedua paspor tersebut tidak termasuk daftar dokumen perjalanan yang hilang dan dilaporkan, makanya tidak dicurigai. Kedua orang Iran ini bersama-sama membeli tiket dari China Southern Airlines di Pattaya Thailand.

Kantor berita Cina, Xinhua, mengatakan ada 1 orang dari penumpang warga negara China adalah palsu. Penduduk Fujian tersebut tidak sedang bepergian dan tidak kehilangan paspor. Belum ada konfirmasi dari kepolisian Malaysia tentang hal ini.

Terdapat juga informasi ada 4/5(?) penumpang yang batal pergi (?). Sampai (11/3) Polisi Malaysia belum menjelaskan identitasnya mereka, namun menyatakan semua barang mereka sudah diturunkan kembali. Semula ada pernyataan tentang 4 orang yang menggunakan identitas palsu, tetapi belakangan diralat, hanya 2 orang saja.

Menurut Chappy Hakim dalam wawancara dengan TVOne (10/3), jika tidak ada info masalah dari pilot ke ATC maka salah satu kemungkinannya adalah pesawat meledak tiba-tiba. Jika ledakan itu cukup besar, pesawat akan hancur berkeping-keping di udara. Jika ledakan itu kecil tetapi sudah cukup membuat pesawat lumpuh, maka pesawat itu akan menghujam ke laut dengan kecepatan tinggi. Ledakan itu tidak selalu harus bom, bisa saja barang yang mudah meledak yang ada di bagasi penumpang.

NASA mengungkapkan bahwa berdasarkan data-data citra satelit, tidak ada tanda-tanda ledakan disekitar tempat kejadian. Namun info terakhir (11/3) sebuah sumber menyatakan ada kemungkinan pesawat meledak di udara (ketinggian 35 kali). Jika jatuh ke laut, tanda-tanda akan lebih mudah terlihat, karena serpihan akan terkonsentrasi.

Sampai hari ke-4 (11/3) atau sekitar 96 jam, belum ada tanda-tanda pesawat atau bagian dari pesawat ditemukan.

Polisi Malaysia sedang menyelidiki 4 kemungkinan kecelakaan, yaitu (1) Pembajakan, (2) sabotase, (3) masalah psikologis diantara penumpang dan crew, (4) masalah pribadi penumpang dan crew. Polisi Malaysia menyatakan contoh masalah pribadi adalah asuransi atau utang.

Bencana ya Bencana, Kejahatan ya Kejahatan

Tag

,

Hampir 4 tahun saya tidak menulis di blog ini. Entah kenapa hari ini ingin menulis sesuatu…

Inilah hasilnya, Jangan ditertawakan ya…🙂

Opini dalam tulisan ini adalah tanggapan atas bedah Editorial Media Indonesia (MI) di MetroTV pagi ini (4/3/2014) dengan judul “Kejahatan Bukan Bencana”. Jika melihat judul tajuknya saya pikir tidak ada yang aneh dan semua orang juga sudah tahu bahwa Bencana ya Bencana, Kejahatan ya Kejahatan. Tetapi melihat isi bedah editorialnya, terus terang saya menjadi sangat prihatin, karena telah mereduksi ruang lingkup penanganan bencana. Apalagi setelah mendengar langsung beberapa tanggapan yang masuk dari pemirsa.

Tidak tahu persis apakah tim redaksi MI memang punya pemahaman seperti itu mengenai bencana (disaster) dikaitkan dengan kejahatan. Ataukah mereka tahu yang sebenarnya mengenai ruang lingkup penanganan bencana, tapi membuat hubungan seperti itu untuk tujuan tertentu.

Saya bukan pakar kebencanaan atau pihak yang banyak terlibat di penanganan bencana, tetapi cara MI dan MetroTV mengkaitkan Bencana dan Kejahatan seperti yang disampaikan sangatlah tidak bijaksana dan berbeda dengan praktik dan filosofi penanganan bencana yang saya ketahui.

Salah satu tugas penting media massa adalah mendudukan permasalahan secara jernih, proposial dan adil; karena apa yang disampaikan akan berdampak besar pada masyarakat. Media massa adalah salah satu rujukan masyarakat untuk beropini dan bersikap. Apalagi MI dan MetroTV adalah salah satu yang dipercaya sebagai sumber informasi.

Dalam tayangan tersebut saya mendapat kesan bahwa musibah ataupun “bencana” yang ditimbulkan oleh ulah manusia, dalam hal ini kebakaran hutan yang sudah sering terjadi di Sumatera, adalah bukan bencana namun kejahatan. Nara sumber dari MI juga menyatakan bahwa bencana itu adalah yang sebabnya bersumber dari ulah alam, bukan ulah manusia. Saya memahami kekesalan pada penanganan “kejahatan” yang menjadi sumber bencana yang diakibatkan oleh kebakaran hutan. Namun mempersempit praktik penanganan bencana menjadi seperti ini menurut saya tidak tepat dan sangat berpotensi semakin menjauhkan masyarakat dari pemahaman pada tujuan utama penanganan bencana.

Sebagai rujukan, saya akan mengutip definisi bencana yang dibuat oleh UNISDR (United Nations International Strategy for Disaster Reduction), lembaga di bawah PBB yang diakui kompetensi oleh para pemangku kepentingan (stake holders) yang terlibat dalam penangangan bencana di dunia. UNISDR mendefisikan bencana (disaster) sebagai berikut:

Disaster is A serious disruption of the functioning of a community or a society involving widespread human, material, economic or environmental losses and impacts, which exceeds the ability of the affected community or society to cope using its own resources.

Dengan tambahan penjelasan sebagai berikut:

Disasters are often described as a result of the combination of: the exposure to a hazard; the conditions of vulnerability that are present; and insufficient capacity or measures to reduce or cope with the potential negative consequences. Disaster impacts may include loss of life, injury, disease and other negative effects on human physical, mental and social well-being, together with damage to property, destruction of assets, loss of services, social and economic disruption and environmental degradation.

Ruang lingkup penanganan bencana tidak dibatasi oleh penyebab bencana tersebut tetapi oleh dampak yang dihasilkannya. Jika dampaknya masif dan masyarakat yang terkena musibah tidak bisa menangani dengan menggunakan sumberdaya yang mereka miliki, maka musibah itu dapat dikatakan sebagai sebuah bencana.

Memang banyak sekali bencana yang diakibatkan oleh faktor alam, seperti gempa bumi dan erupsi gunung berapi. Namun musibah yang disebabkan oleh ulah manusia dan kombinasi alam dan ulah manusia, seperti banjir, radiasi nuklir dan sebagainya tetap akan dikategorikan sebagai bencana kalau dampaknya masif dan memenuhi definisi yang dibuat oleh UNISDR tersebut.

Penanganan bencana (dalam hal tanggap darutat) adalah urusan kemanusiaan dengan fokus secepat mungkin menangani bencana tersebut sehingga masyarakat bisa diselamatkan dengan kerugian yang minimum. Jika ada unsur kelalaian atau kejahatan (seperti yang disampaikan di editorial MI) sepatutnya ditanggani secara terpisah dan ada diranah hukum. Sekedar ilustrasi, jika pelaku kejahatan terkena musibah yang dia sebabkan, menurut ruang lingkup penanganan bencana, tetap akan diperlakukan sama dengan korban yang lain pada saat tanggap darurat dilaksanakan. Jadi adanya unsur kejahatan dalam kejadian bencana seyogyanya tidak mereduksi ruang lingkup penanganan bencana. Demikian juga kejahatan yang menjadi sumber bencana harus tetap diproses menurut ketentuan yang berlaku. Bahkan sangat masuk akal jika pelaku kejahatan penyebab bencana diberi hukuman lebih berat dibandingkan dengan kejahatan biasa.

Penanganan Bencana dan penanganan kejahatan adalah ranah yang berbeda, meski adakalanya berhubungan. Namun demikian, media dan masyarakat diharapkan tidak mempersempit ruang lingkup penanganan bencana karena ada (dugaan) unsur kejahatan disana. Jika BPBD (Badan Penanggulangan Bencana Daerah) ataupun BNPB yang turun saat musibah kebakaran sudah memenuhi kriteria bencana itu sudah tepat, toh itu tidak akan mereduksi kewenangan kepolisian untuk mengusut sampai tuntas masalah ini.

Jika ingin membuat jera para pelaku kejahatan yang menimbulkan bencana kebakaran hutan; media massa atau masyarakat bisa mendorong kepolisian untuk menggunakan tuntutan pidana dan perdata yang ada di Undang Undang Nomor 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana Pasal 75 sampai dengan Pasal 79. Disana tencantum sanksi pidana yang perdatanya cukup berat, yaitu sampai 45 tahun penjara!

Kalaupun ancaman hukuman masih dianggap terlaku ringan ataupun masih ada kendala penerapan sanksi, media massa atau masyarakat bisa meminta DPR atau Pemerintah melakukan revisi UU Penanggulangan Bencana ataupun melengkapi payung hukum untuk menjerat pelaku kejahatan yang telah menyebabkan bencana.

Ada adalah contoh kasus nyata yang terjadi di Indonesia, tidak akan saya sebutkan namanya sebagian besar dari masyarakat sudah atau musibah apa yang saya maksud. Banyak pihak termasuk Pemerintah, pihak yang dituduh sebagai penyebab, tokoh masyarakat dan media massa terus beradu argumen mengenai penyebab bencana itu faktor alam atau ulah manusia. Triliun uang terbuang percuma untuk mengamankan posisi dan pendapat masing-masing. Padahal kejadian tersebut jelas-jelas bencana karena dampaknya masif. Akibatnya masyarakat yang terkena bencana tidak ditolong secara optimal. Mereka marah, kecewa, frustasi, menderita berkepanjangan dan mudah dimanfaatkan oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab. Sampai sekarang masalah ini masih berlarut-larut dan sudah hampir 10 tahun.

Sebagai tambahan, ruang lingkup penanganan bencana bukan hanya pada saat terjadinya dengan melakukan tanggap darurat. Dalam praktik penanganan bencana secara modern dan menyeluruh, disamping tanggap darurat ada tahap pra-bencana (mitigasi, pencegahan) yang sekarang lebih dikenal dengan pengurangan risiko bencana (Disaster Risk Reduction/DRR) dan pasca-bencana yang biasa dikenal tahap rehabilitasi dan rekonstruksi. Kedua tahap ini mencakup rentang waktu yang lebih lama dari tanggap darurat yang hanya untuk periode beberapa hari sampai beberapa bulan saja.

Saat ini, kejadian pada saat bencana yang lebih sering diperhatikan dan diliput oleh media massa. Tahapan Rehabilitasi dan rekonstruksi lumayan, tapi pra-bencana sangat minim. Padahal proses penanganan pra-bencana atau DRR adalah tahapan paling penting agar dampak dari bencana pada manusia bisa diminimalisir. Pada praktiknya DRR inilah yang seharusnya berkerja secara kontinu sepanjang waktu baik ada atau tidak ada bencana.

Alangkah baiknya jika media massa di Indonesia mendorong Pemerintah dan DPR untuk memasukkan DRR dalam setiap program pembangunannya, karena Indonesia adalah negara yang termasuk paling tinggi risiko bencananya. Janganlah mereduksi peran penanganan bencana hanya untuk bencana alam saja. Sudah ada kejadian penanganan “musibah” yang berlarut-larut hanya karena ribut masalah penyebab. Sudah banyak, sedang banyak dan akan banyak bencana yang terjadi. Berada disisi yang sama dalam menghadapi bencana akan mempermudah penanganan bencana dan menyelamatkan korban dengan lebih baik. Urusan selain bencana, serahkan kepada ranah masing-masing.

Mendorong pemberian sanksi pidana dan perdana pada pihak-pihak yang melakukan tindakan kejahatan yang meyebabkan bencana sesuai UU Penanggulangan Bencana adalah salah satu contoh nyata DRR.

Gud luk MetroTV dan Media Indonesia. Semoga makin menjadi referensi masyarakat Indonesia. Titip salam untuk Najwa, she’s the best…🙂

Cimahi, 4 Maret 2014

Mengapa Memilih Membenturkan Antar Kebenaran, Bukan Mencari Kesepakatan Diantaranya?

Tag

, , , ,

Seorang ilmuwan Jerman, Georg C. Lichtenberg, pernah mengatakan, “Kebohongan yang paling berbahaya adalah kebenaran yang sedikit disimpangkan.” Mungkin ini sebuah sindiran kepada orang-orang yang mengetahui mengenai fakta kebenaran tapi memanfaatkannya untuk tujuan tertentu yang tidak baik.

Dalam pencarian kebenaran tersebut kemudian muncul sebuah pertanyaan, “Apakah yang dimaksud mengenai kebenaran itu?” Pertanyaan ini sering mengusik, karena banyak diungkap ke permukaan oleh orang/pihak yang berbeda-beda dengan makna yang beragam, terkadang bertentang satu dengan yang lainnya. Tidak perlu jauh-jauh, tanya saja orang terdekat kita, belum tentu jawabannya sama. Apalagi satu kampung, lain kota, satu negara, seluruh dunia.

Kasus Century, mayoritas anggota DPR bilang Sri Mulyani dan Budiono salah, sisanya bilang mereka benar. Polisi bilang Abu Bakar Ba’asyir itu benar bagian dari teroris, simpatisannya berujar dia melakukan hal benar dan bukan teroris. Terakhir, Ketua DPR Marzuki Alie mengatakan Aulia Pohan bukan koruptor, KPK dan banyak pihak memutuskan bahwa benar dia koruptor.

Kita bisa bikin daftar panjang kontroversi kebenaran sampai pada apa yang dilihat atau dialami sehari-hari dari hubungan antar anggota keluarga, tetangga sampai perselisihan di persimpangan jalan karena lampu lalu-lintas mati. Perbedaan pandangan kebenaran juga bisa masuk ke wilayah yang sangat sensitif seperti hal-hal bersifat SARA.

Adakah anda punya keingin-tahuan mencari penjelasan yang paling menentramkan hati mengenai arti kebenaran? Mungkin Anda sudah punya jawaban dan tentram dengan hal itu. Kepada siapa pun Anda bisa dengan tanpa beban berat mengatakan keyakinan mengenai kebenaran tersebut. Alhamdulillah.

Saya berpendapat kebenaran menurut versi manusia, siapapun kita, adalah kebenaran perseptif, kebenaran sebagian, kebenaran kesepakatan. Dengan cara ini saya bisa memahami kenapa pandangan manusia mengenai kebenaran itu sangat beragam.

Sebuah fakta bisa mengungkapkan kebenaran, tapi fakta yang tidak lengkap bisa menyembunyikan kebenaran dan menimbulkan perselisihan. Dalam banyak kasus, fakta yang kita ketahui seringkali tidak lengkap, bahkan kadang-kadang tidak akurat. Fakta yang sama bisa diungkapkan dengan cara yang berbeda, tegantung sudut pandang dan kepentingan. Hal ini makin memperumit pengungkapan mengenai kebenaran suatu kasus.

Satu ilustrasi klasik mungkin bisa menjadi contoh. Gelas yang berisi air, bisa dikatakan setengah penuh atau setengah terisi. Faktanya sama, persepsi berbeda, kesimpulannya bisa berbeda pula. Beruntunglah urusan gelas kesepakatan mengenai kebenaran sangat mudah dicapai, karena kedua-duanya benar.

Masalah gelas ini menjadi agak ‘jelimet‘ manakala disambungkan dengan kejadian sebelumnya dan sesudahnya. Kalau gelas itu tadinya penuh kemudian dibuang setengahnya atau tadinya kosong lalu diisi setengahnya, apakah kesimpulan tetap sama? Kalau setelah itu gelas berisi setengah air kemudian tidak sengaja jatuh dan pecah atau kemudian diisi susu kental manis, setidaknya ada 4 rangkaian peristiwa/fakta yang berbeda. Makin banyak fakta yang harus dijalin keterkaitannya, makin mumet pikiran kita dan makin besar peluang perbedaan tafsiran antar kita.

Bagaimana dengan kasus Century, teroris dan koruptor? Jangan dululah ngomongin fakta dan jalinan antar fakta, bicara definisi kata-kata tersebut saja belum tentu kita sepakat.

Urusan kebenaran yang berhubungan dengan Yang Maha Pencipta biarlah tetap menjadi ranah masing-masing orang (privat) karena kalau dicoba dicari solusi, alih-alih terungkap kebenarannya yang terjadi adalah putus tali silaturahmi. Yang sangat penting dilakukan adalah mengenai kesepakatan kebenaran dalam hubungan antara manusia dan alam sekitar.

Kalau definisi korupsi saja bisa beda-beda persepsinya, mana bisa korupsi diberantas? Kalau pemahaman mengenai teroris antara Pemerintah dan masyarakat tidak sama, bagaimana dapat masyarakat mendukung penuh mencegah aksi terorisme? Kalau makna kedaulatan negara antar Malaysia dan Indonesia bertentangan satu sama lain, bagaimana mungkin kehidupan bertetangga yang saling menghormati dapat terwujud? Kalau Hukum, UU dan regulasi lainnya bisa dinterpretasikan sekehendak sendiri mana bisa Hukum ditegakkan?

Kesepakatan bukan berarti penyeragaman. Perbedaan tetap dihargai, namum semua sepakat pada satu pengertian tertentu, tujuan tertentu, kegiatan tertentu. Kesepakatan itu juga dinamis dan harus bisa diubah, tergantung kebutuhan, adanya fakta baru dsb. Kesepakatan bisa dicapai dari cara yang paling primitif, yaitu pemaksaan, sampai yang elengan, yaitu mencari solusi terbaik dengan pendekatan partisipatif. Mungkin sementara ini cara yang ditempuh tidak terlalu masalah yang penting ada kesepakatan; sehingga semua punya acuan yang sama untuk melangkah ke depan.

Kembali ke kasus Century, kalau sudah tercapai kesepakatan melalui voting Sri Mulyani dan Budiono bersalah, ya harus seperti itu kesimpulannya. Kalau kita sudah sepakat KPK bisa dipercaya, ya harus mau berbesar hati menganggap Aulia Pohan sebagai koruptor. Perkara benar atau salah serahkan saja pada masing-masing orang untuk menilai. Toh kita semua mafhum, tidak semua yang dihukum ‘benar-benar’ salah, dan tidak semua yang salah ‘benar-benar’ dihukum melalui pengadilan. Karena kesepakatan mengenai kebenaran dan kesalahan yang dibuat manusia itu bersifat perseptif; bisa benar, bisa salah, bisa benar sebagian.

Hanya Yang Maha Kuasa yang mengetahui rahasia kebenaran hakiki di alam semesta. Semoga kita semua didekatkan dengan kebenaran tersebut.

Redenominasi Rupiah: Menuju Peningkatan Daya Saing Anak Bangsa [Bukan Money Laundering]

Tag

, ,

Terus melangkah melupakanmu
lelah hati perhatikan sikapmu
jalan pikiranmu buat ku ragu
tak mungkin ini tetap bertahan …

Perlahan mimpi terasa mengganggu
kucoba untuk terus menjauh
perlahan hatiku terbelenggu
ku coba untuk lanjutkan hidup …

Engkau bukanlah segalaku
bukan tempat tuk hentikan langkahku
usai sudah semua berlalu
biar hujan menghapus jejakmu …

(Ariel Peterpan, 2007)

Menurut berita, tidak lama lagi BI akan menyampaikan hasil kajian mengenai rencana Redenominasi Rupiah. Mudah-mudahan akan terpaparkan secara komprehensif dasar pemikiran rencana tersebut, bukan berita sepotong-sepotong seperti saat ini yang menjadi bola liar menyeruduk kemana-mana.

Semoga juga punya alasan cukup kuat, mengapa itu menjadi sangat penting dan harus dilakukan. Yang beredar di publik secara samar-samar saat ini antara lain adalah: Pertama, untuk menyederhanakan hitung-hitung uang dari jual beli di pasar tradisional hingga transaksi jual beli saham. Dari kalkulator warung tetangga sampai laporan keuangan perusahaan terbuka. Dari pengeluaran ibu rumah tangga hingga belanja Pemerintah.

Banyak pertanyaan berkaitan dengan hal ini. Apakah sedemikian penting penyederhanaan tersebut? Apakah Rp 1.234.567.891 lebih sederhana jika menjadi Rp 1.234.567,891? Ataukah ‘dibulatkan’ menjadi Rp 1.234.568,-? Akan ada berapa milyar transaksi yang ‘terpaksa’ disederhanakan dalam pembukuan luar kepala ataupun dokumen resmi? Bagaimana dengan angka yang ‘hilang’ atau ‘nambah’ akibat pebulatan ke bawah atau ke atas?

Kedua, saat ini Indonesia berada di urutan kedua negara yang mengeluarkan pecahan terbesar, yaitu 100 ribu rupiah. Yang pertama adalah Vietnam dengan 500 ribu Dong. Apakah alasan ini juga sangat kuat? Apakah dengan ‘melorot’ urutan bawah, anak bangsa Indonesia bisa meningkatkan daya saingnya? Katanya juga, ini biar mudah untuk Indonesia bila nantinya diberlakukan mata uang tunggal ASEAN/ASIA.

Ada contoh menarik. Salah satu PTN terkemuka di Indonesia tidak masuk 500 besar menurut “Academic Ranking of World Universities” (www.arwu.org), tapi bedasarkan  “4 International Colleges & Universities” (www.4icu.org) melesat ke posisi 31 dunia. ARWU menggunakan kriteria yang terkait langsung dengan kegiatan akademik PT, sedangkan 4ICU ‘hanya’ memeriksa dari ukuran-ukuran popularitas di jagat Internet. Mudah-mudahan rencana redenominasi rupiah benar-benar didasarkan pada pertimbangan yang komprehensif bukan yang superfisial.

Ketiga, penerapan ini, kata yang ahli, membutuhkan banyak prasyarat. Diantaranya tingkat inflasi rendah dan stabil, ekonomi terjaga, dan masyarakat siap. Sungguh persyaratan yang sangat tidak mudah untuk dipenuhi. Dan apakah ‘harga’ yang musti dibayar oleh masyarakat sepadan dengan ‘manfaat’ yang nantinya bisa diperoleh?

Ini belum termasuk pendapat dari beberapa pakar ekonomi yang mengatakan dalam praktiknya tidak selalu linier dan tinggal menghilangkan nolnya. Redenominasi Rp 1.000.000 tidak otomatis menjadi Rp 1.000, karena bisa saja menjadi Rp 1.006, atau bahkan Rp 1.123? Jika ini terjadi siapa yang dirugikan dan diuntungkan?

Keempat, redenominasi bukan semata-mata urusan ekonomi, juga berjalin erat dengan aspek sosiologis, psikologis, regulasi dan sebagainya. Contoh yang masih hangat adalah kebijakan konversi minyak tanah ke gas. Pertimbangannya sangat ekonomis dengan banyak mengabaikan aspek lainnya. Itu pun belum merambah ke mencari jawaban: Siapa yang diuntungkan secara ekonomi dari proses konversi ini? Pemerintah, pelaku usaha, ataukan rakyat yang asalnya memakai minyak tanah?

Masih ada kelima, keenam, ketujuh. Termasuk berapa biayanya? Berapa lama butuh waktu (menurut kabar jika dimulai sosialisi tahun depan akan tuntas tas 2022)? Siapa saja yang dilibatkan [atau seharusnya dilibatkan]? Apakah saja yang harus menyesuaikan terhadap rencana besar ini? [Lagi-lagi] berapa banyak biaya dan waktu untuk penyesuaian tersebut?

Perlu dikaji dengan cermat pula siapa sih yang ‘butuh’ penyederhanaan ini? Pemerintah, pelaku bisnis atau rakyat biasa? Berapa banyak sih orang yang punya uang [terlibat hitung-hitungan] miliaran atau triliunan rupiah saat ini, hingga merasa repot dengan kondisi tersebut?

Kita tunggu deh penjelasan lengkap dari Bank Indonesia, yang katanya sudah studi sekitar 3 tahun. Ini sangat penting karena toh akhirnya masyarakat, setuju ataupun tidak, harus ‘nurut’ pada yang pegang kewenangan bila rencana besar ini diwujudkan. Tidak perlu dikirim dokumen se truk yang berdampak salah pengertian karena jadi ‘menciut’ ke sebuah surat beberapa lembar saja. Cukup penjelasan yang bisa dimengerti dan diakses banyak orang, pinter maupun belum pinter, Prof.Dr. ataupun buruh tani, yang banyak uang dan yang banyak utang.

Tapi buka dulu topengmu
buka dulu topengmu
biar kulihat warnamu
kan kulihat warnamu …

(Ariel Peterpan, 2003)

Cimahi, 4 Agustus 2010

Adji Wigjoteruna
– the shorter our remaining life, the more we know that we don’t know and the more we have to learn …

Apakah Adil Makmur Itu?

Katanya negara kita negara Hukum. Lalu apakah yang dimaksud; Hukum yang tegak ataukah Keadilan yang terwujud?

Katanya tujuan negara kita adalah adil dan makmur. Lalu apakah makmur itu; tidak ada yang miskin ataukah berdaya saing?

Katanya pelacuran dan korupsi harus diberantas. Bagaimana menurut sejarah; apakah keduanya tumpas hingga ke akar-akarnya?

*ADIL*

Banyak penjelasan mengenai adil, baik yang terukur maupun yang deskriptif. Saya pribadi lebih suka menggunakan pendekatan statistika. Adil itu analog dengan definisi random (acak), yaitu dimilikinya kesempatan/peluang yang sama oleh semua anggota masyarakat.

Kesempatan itu apa? Kesempatan untuk mewujudkan apa yang dinginkannya. Jika ingin kaya, dia memiliki kesempatan yang sama dengan yang lain untuk menjadi kaya. Demikian juga jika ingin menjadi Profesor ataupun Bupati. Jika dia akhirnya menjadi koruptor atau hidung belang, tentunya harus juga mendapat peluang yang sama untuk dijerat hukum ataupun dihina-dinakan masyarakat. 🙂

Lalu apa fungsi Pemerintah dan Lembaga Negara lainnya? Salah satunya adalah agar distribusi kesempatan itu relatif merata pada semua rakyatnya. Tidak peduli berapa banyak hartanya, apa agamanya, sukunya, jendernya dan serupanya.

Ambil contoh seorang anak keluarga miskin di desa terpencil dengan anak keluarga kaya di metropolitan. Apakah keduanya memiliki kesempatan yang sama untuk menjadi kaya atau profesor? Jika tidak, maka tugas Pemerintah agar kesempatan itu tidak ‘jomplang’. Caranya banyak sekali, Pemerintah dan para pakar sangat tahu apa saja yang bisa dilakukan.

Mari kita cek kondisi saat ini di Indonesia. Untuk menjadi kaya atau intelektual, paling tidak ada 2 jenis kesempatan yang dibutuhkan, yaitu mendapat pendidikan dan akses terhadap pekerjaan/usaha. Bagaimana pendidikan di Indonesia, apakah anak si kaya dan si anak miskin sudah mendapat peluang yang sama untuk mendapatkan pendidikan (tentunya dengan kualitas yang setara)?

Kemudian bagaimana dengan kesempatan mendapat pekerjaan (atau menjalankan usaha). Apakah si miskin dengan si kaya (misalnya dengan kompetensi yang satara), memiliki kesempatan yang sama terhadap akses pekerjaan ataupun usaha?

Jika itu terjadi, Insya Allah, keadilan yang diharapkan bisa terwujud, setidak-tidak untuk kedua hal tersebut.

*MAKMUR*

Negara yang makmur bisa berarti negara tanpa orang miskin, hidup damai dan bahagia. Tetap ada perbedaan kemammpuan ekonomi, tetapi lapisan terbawah masyarakat mampu hidup melebihi kebutuhan hidup layak. Masalahnya adalah bagaimana kemakmuran itu bisa tercapai, tentunya kemakmuran yang berkelanjutan (sustained) bukan sesaat. Dari sekian banyak jalan, saya lebih menyukai ukuran yang sering digunakan oleh seorang teman, yaitu daya saing (competitiveness). Jadi yang perlu diperhatikan oleh Pemerintah adalah peningkatan daya saing secara terus menerus.

Banyak sekali definisi daya saing, salah satunya adalah yang dibuat oleh WEF. Pada tingkat dunia, Indonesia ada pada peringkat 50-an dari sekitar 130 negara. Menariknya, dalam 3 tahun terakhir ini (2006-2008) peringkat tersebut cenderung turun.

Dalam konteks ini yang dimaksud dengan daya saing adalah daya saing setiap anak bangsa secara individual, bukan perusahaan atau negara. Jika setiap warga negara Indonesia memiliki daya saing yang kuat dalam bidang-bidang yang digeluti atau diminatinya, maka secara alamiah akan terbangun daya saing dalam ukuran yang lebih besar seperti keluarga, perusahaan, daerah, dan tentu saja, bangsa.

Mari kita cek apakah kita sebagai individu, perusahaan atau bangsa, memiliki daya saing yang kuat jika dibanding dengan bangsa/negara lain? Jika ada dalam bidang apa saja? Dan juga sangat penting dicek adalah, jika ada keunggulan dalam bidang tertentu, apakah itu dicapai lebih karena usaha sendiri ataukah juga dibantu/difasilitasi oleh program-program Pemerintah?

Kita ambil contoh dalam bidang ketenagakerjaan. Apakah tenaga kerja kita mampu bersaing dengan tenaga kerja negara lain, baik di Indonesia maupun di tingkat global? Jika ada, dalam bidang apa saja?

Contoh lain adalah dalam persaingan usaha, apakah perusahaan-perusahaan Indonesia, baik kecil, menengah atau besar, mampu bersaing secara global? Jenis yang mana dan dalam bidang apa?

Dalam penilaian saya, sudah ada tenaga kerja dan perusahaan kecil yang diakui kompetensinya di dunia. Tetapi apakah cukup seperti sekarang. Mana yang strategis untuk dimenangkan dan seperti apa prioritasnya? Kita pernah lengah untuk terus menjaga kemampuan daya saing, sehingga banyak bidang yang awalnya telah unggul sekarang menjadi tertinggal.

Bila Pemerintah mampu meningkatkan daya saing anak bangsa secara terus menerus dan berkesinambungkan, Insya Allah, kemakmuran yang diimpikan dapat terwujud, setidak-tidak dalam bidang-bidang yang diprioritaskan.

Adil dan Makmur adalah dua hal yang tidak dapat dipisahkan, tidak ada kemakmuran tanpa keadilan demikian juga sebaliknya. Berdaya saing juga sangat erat kaitannya dengan pemerataan kesempatan. Mudah-mudahan, SBY dan Presiden Indonesia selanjutnya mampu mewujudkan bangsa Indonesia yang adil dan makmur.

Mudah-mudahan pula demokrasi, otonomi daerah, penegakan hukum, pemberantasan korupsi, checks and balances, good governance, pertumbuhan ekonomi yang berkualitas, pengurangan kemiskinan, reformasi brirokrasi dan lain sebagainya menjadi alat/sarana untuk mencapai adil makmur, bukan menjadi tujuan itu sendiri.

Cerita Seorang Hasmi: Pencipta Gundala Putra Petir

Tag

, , , , ,

Bagi penggemar komik tahun 1970-an pasti kenal dengan superhero lokal Gundala sang Putera Petir. Saya ingat waktu itu masih imut2 alias SMP dan punya beberapa bukunya. Sayang sekali sudah hilang bersama koleksi komik wayang karya R.A. Kosasih yang masih asli dan Wayang Purwa-nya S. Ardisoma.

Hasmi 2009 (JawaPos)

Hasmi 2009 (JawaPos)

Lalu adakah yang kenal dengan Hasmi alias Harya Suryaminata? Dialah pencipta Gundala. Inilah cuplikan cerita sang kreator yang saya comot dari sana-sini.

Hasmi dilahirkan 25 Desember 1946 (62 tahun) di Yogya. Sekarang masih tinggal di sebuah gang sempit di kawasan Karangwaru Lor, Yogya. Sama seperti tahun 1969 waktu pertama kali menciptakan Gundala. Pendidikan formalnya bukan di gambar-menggambar tetapi lulusan Bahasa Inggris ABA Yogya. Lama membujang baru menikah tahun 2003, kala usia mencapai 50-an. Memiliki 2 anak Batari Sekar Dewangga (10) dan Ainun Anggita Mukti (4). Dua buah komik Gundala, dilatarbelakangi kegagalan dan asa cintanya, yaitu Gundala Jatuh Cinta (1972) dan Pengantin Buat Gundala (1977). Saat ini bekerja sebagai komikus lepas, editor, ilustrator, dan penulis skenario bagi beberapa program TV dan teater. Selain itu namanya masih tercantum sebagai art manager PT Bumi Langit.

Setelah lama tidak terdengar, tahun 2005 agak sering diberitakan media karena rencana Penerbit PT Bumi Langit menerbitkan ulang semua karya Gundala yang mencapai 23 buku. Dan tahun 2009 ini sehubungan dengan rencana peringatan 40 tahun Gundala dan pembuatan film Gundala The Movie.

Ada beberapa fakta menarik yang berhasil saya kumpulkan mengenai Gundala dan Hasmi:
1. Gagasan Gundala diinspirasi oleh tokoh komik The Flash yan dipadukan dengan cerita legenda Ki Ageng Selo.
2. Tokoh Nemo di komik Gundala adalah cerminan Hasmi. Kebetulan Nemo adalah nama panggilannya.
3. Pengakuan terakhir Hasmi, Gundala adalah seorang insinyur bukan peneliti, dosen sebagaimana yang disebutkan di Wikipedia. Ini mungkin ada hubungannya dengan cita-citanya yang gagal menjadi seorang insinyur karena gagal masuk UGM.
4. Dalam Gundala The Movie yang akan masuk bioskop bulan Juni 2009, Gundala diceritakan sebagai arkeolog. Dalam hal ini nampaknya Hasmi keberatan. Rencana film ini nampaknya menjadi tidak jelas sesuai konfirmasi terakhir Hasmi (12/3) ke Jawa Pos. Apa yang ada di Facebook bukan resmi dari Bumi Langit tetapi merupakan inisiatif para penggemar Gundala.
5. Saat ini dia sedang sibuk menyiapkan edisi 40 Tahun Gundala bersama tim dari Bumi Langit yang rencananya diterbitkan September, sesuai kelahiran Gundala.

Gundala Putra Petir (1969)

Gundala Putera Petir (1969)

Komigrafi Gundala:
1. Gundala Putera Petir (UP Kentjana Agung, 1969)
2. Perhitungan di Planet Covox (UP Kentjana Agung,1969)
3. Dokumen Candi Hantu (UP Kentjana Agung,1969)
4. Operasi Goa Siluman (UP Kentjana Agung,1969)
5. The Trouble (UP Kentjana Agung,1969)
6. Tantangan buat Gundala (UP Kentjana Agung,1969)
7. Panik (UP Kentjana Agung,1970).
8. Kuntji Petaka (UP Prasidha,1970).
9. Godam vs Gundala (UP Prasidha,1971)
10. Bentrok Jago-jago Dunia (UP Prasidha,1971)
11. Gundala Jatuh Cinta (UP Prasidha,1972).
12. Bernafas dalam Lumpur (UP Prasidha,1973)
13. Gundala Cuci Nama (UP Prasidha,1974)
14. 1000 Pendekar (UP Prasidha,1974)
15. Dr. Jaka dan Ki Wilawuk (UP Prasidha,1975)
16. Gundala sampai Ajal (UP Prasidha,1976)
17. Pangkalan Pemunah Bumi (UP Prasidha,1977)
18. Penganten buat Gundala (UP Prasidha,1977)
19. Bulan Madu di Planet Kuning (UP Prasidha,1978)
20. Lembah Tanah Kudus (UP Prasidha,1979)
21. Gundala Sang Senapati (UP Prasidha,1979)
22. Istana Pelangi (UP Prasidha,1980)
23. Surat dari Akherat (UP Prasidha,1982)

Semuanya diterbitkan ulang oleh PT Bumi Langit, kecuali Bentrok Jago-jago Dunia karena masalah hak cipta.

Tahun 1988, Gundala pernah muncul di Jawa Pos sebagai komik strip.

Filmografi:
1. Gundala Putra Petir (1981, Teddy Purba sebagai Gundala, Sutradara Lilik Sudjio).
2. Gundala The Movie (rencana Juni 2009, Sandy Mahesa sebagai Gundala, Sutradara Alex J. Simal, Produksi Langit Bumi Pictures).

Fan Made Komik:
1. Gundala The Reborn (1999, Adurahman Saleh)
2. Putra Petir (2001, Riri Dewi)
3. Sancaka (2005, Ahmad Ilyas)
4. Gundala (2005, Asrulloh)

Kita tunggu kehadiran Gundala Edisi 40 Tahun dan [mungkin] The Movie-nya.

Bagaimana Agar Website Kita No.1 di Google?

Tag

, , , , ,

Ini adalah kali kesekian saya mendapat ‘hadiah’ memiliki website yang masuk halaman pertama pencarian om Google. Bahkan nongkrong di urutan No.1 (lihat Gambar), Alhamdulillah. Website Indonesia Today in Brief (ITiB) sebelumnya pernah dianugerahkan Fastest Growing Website oleh WordPress, hari ini beruntung jadi Nomor 1 di google untuk keyword ‘partai peserta pemilu 2009’.

Halaman 1 Google untuk 'partai peserta pemilu 2009'

Halaman 1 Google untuk 'partai peserta pemilu 2009'

Saya sendiri tidak tahu persis apa kriteria yang digunakan oleh Google. Dulu (sekitar tahun 2003-2004) sangat populer yang namanya Search Engine Optimization (SEO), tidak tahu sekarang apakah masih seperti itu. Selain SEO banyak sekali cara yang dapat dilakukan oleh orang untuk mendapatkan ranking (PageRank) dan traffic tinggi, mulai dari cara yang sehat hingga cenderung merekayasa bahkan menipu. Baik dilakukan murni usaha sendiri sampe ‘keroyokan’. Tapi setahu saya orang-orang di belakang Google punya algoritma canggih untuk mengatasi semua rekayasa itu. Jadi kalau saya sih lebih memilih yang alamiah saja. Lakukan apa yang menurut kita baik dan menyenangkan, biar oom Google yang memutuskan.

Memang menyenangkan menjadi No.1, populer, banyak penggemar. Tetapi seringkali mempertahankannya jauh lebih berat. Ada yang mau mengorbankan apa saya untuk mepertahankan semua itu. Jika kita enjoy-enjoy ajah atas semua itu tentunya tidak apa-apa. Tetapi jika keharusan untuk mempertahankannya menyebabkan kita menjadi under pressure, negative thinking, dll. mungkin kita perlu sedikit rileks. Tetap menjadi Nomor 1, bersyukur. Tergusur? Tidak apa-apa. Bukankah menerima kekalahan (atau mengakui kesalahan) juga sama menyenangkannya dengan mendapat kemenangan dan saling memaafkan?

Terima kasih saya ucapkan pada Larry Page dand Sergey Brin yang telah menciptakan mesin pencari yang tetap memberi ruang penghargaan pada usaha yang alamiah. Terima kasih pada semua yang pernah berkunjung ke website saya tersebut. Mungkin lebih dari 90% tidak saya kenal, karena mayoritas pengunjung ITiB (sekitar 14.000 pengunjung unik per 25/2) hadir melalui perantara Google. Tentu saja angka yang masih kecil jika dibanding dengan blog temen saya yang sudah mencapai lebih dari satu juta hit, tidak kurang yang sudah mencapai ratusan ribu.

Salam damai dan sejahtera untuk semua.

Mudah-Mudahan Kepintaran Tidak Digunakan Untuk Menipu

Tag

, ,

Harian Investor Daily menurunkan 4 seri tulisan yang sangat menarik mengenai investasi, yaitu “Malapraktik Derivatif”, terutama bercerita mengenai ‘korban-korbannya’ di Indonesia.

Belum selesai seri cerita tersebut, saya dikejutkan oleh berita terbaru yang muncul di Yahoo News, seorang Miliarder Texas, Robert Allen Stanford, ternyata telah divonis sebagai scam artist oleh SEC dengan nilai penipuan mencapai US$ 8 Miliar!

Bagi teman2 mungkin masih ingat beberapa bulan kebelakang bagaimana Bernard Madoff, seorang mantan pimpinan puncak NASDAQ yang begitu kredibel rekam jejaknya, didakwa telah melakukan ponzi scheme yang menjulang hingga angka fantastis, US$ 50 milyar! SEC memerlukan waktu sekitar 16 tahun investigasi untuk akhirnya menyimpulkan bahwa Madoff melakukan skema ponzi yang sangat canggih. Yang menarik korbannya bukanlah orang dan lembaga sembarangan, kalau tidak salah HSBC dan sutradara terkenal Steven Spielberg  adalah salah 2 dari sekian banyak korban2 yang salah ekpektasi akibat silau reputasi dan [mungkin] ingin mendapatkan untung besar dari usaha hanya mengoyang kaki…

Jika ada temans yang ingin melihat info lengkapnya bisa klik link dibawah atau search oom Google.

1. Malapraktik Derivatif: (Kalau tidak ditemukan, mungkin hanya ada diedisi cetaknya)
http://www.investorindonesia.com

2. Robert Allen Stanford:
http://news.yahoo.com/s/ynews/ynews_ts247

3. Bernard Madoff:
http://en.wikipedia.org/wiki/Bernard_Madoff

Nampaknya adagium investasi kuno masih berlaku:
Low Risk Low Return, High Risk High Return
Low Risk High Return? Too Good To Be True …


dengan sedikit tambahan:
High Return, Sophisticated Instrument, Low Wariness, Red Flag to [Economic] Disaster…

Salam;